Pembubaran Diskusi Buku Diiringi Teror Lempar Telur, Bukti Nyata Indonesia Memang Perlu di-Reset

0
153

MADIUN, 22 Desember 2025 – Diskusi buku “Reset Indonesia” yang rencananya digelar di Pasar Pundensari, Desa Gunungsari, Madiun, Jawa Timur dibubarkan oleh aparat dan pejabat pemerintahan setempat, Sabtu (20/12) malam.

Dandhy Laksono, salah satu anggota tim penulis buku tersebut menegaskan pembubaran paksa diskusi ini menjadi bukti bahwa Indonesia perlu di-reset.

“Ya beginilah, inilah kenapa malam ini di tempat ini pembuktian bahwa kita memang perlu me-reset Indonesia. Kami hanya menulis buku, mendiskusikan isi buku, tapi ada orang yang tidak suka diskusi buku. Mereka ingin kita menghentikan ini semua,” kata Dandhy.

Kemudian, mewakili para penulis, Dandhy juga menyampaikan permohonan maaf kepada para peserta diskusi yang datang dari luar daerah. Kata Dandhy, mereka sudah datang jauh-jauh tetapi acara dibatalkan.

“Tapi sekali lagi, kenapa kami menulis buku ini, karena persis seperti malam ini, situasi yang kita hadapi di Indoenesia sekarang,” ungkapnya.

Sesuai jadwal, diskusi buku “Reset Indonesia” yang diinisiasi komunitas lokal mulai dilangsungkan pada pukul 19.00 WIB. Puluhan peserta dari Madiun dan luar daerah juga hadir. Tak terkeculi, empat penulis buku tersebut, yaitu Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Ryamizard Harobu.

Saat acara siap dibuka, terpantau sejumlah orang mengenakan seragam mendatangi lokasi diskusi. Mereka terdiri dari camat, lurah, sekdes, anggota Babinsa, dan anggota polsek. Kedatangan mereka meminta acara dihentikan, dengan alasan tidak ada izin.

“Padahal panitia sudah memberikan surat pemberitahuan kepada Polsek Madiun,” sebut Tim Ekspedisi Indonesia Baru yang disiarkan melalui Instagram, Minggu (21/12).

Padahal, kata Tim Ekspedisi, para penulis buku “Reset Indonesia” ini sebelumnya telah menyelenggarakan diskusi hingga di sekitar 45 titik di berbagai kota di Indonesia. “Inilah untuk pertama kali diskusi dibubarkan paksa,” imbuh Tim.

Meski demikian, diskusi tetap dilangsungkan di sebuah kedai kopi yang biasa dijadikan tempat berkumpul para pegiat literasi di Kota Madiun. Salah satu alasannya, karena peserta dari luar telah hadir.

“Bedah buku tetap kami langsungkan yakni MuCoffee yang berada di Kota Madiun dengan jumlah peserta sekitar 30 orang,” ujar Benaya Ryamizard Harobu.

Menyikapi pembubaran acara, penulis Gen Z buku “Reset Indonesia” ini menyatakan baru kali pertama terjadi di Madiun. Dalam rangkaian road show di beberapa daerah lain, sebelumnya, selalu berjalan lancar.

“Insiden ini menunjukkan matinya demokrasi. Dan kejadian ini baru pertama terjadi, meski kami sudah menggelar bedah buku di kota-kota lain,” ungkap Benaya.

Untuk tujuan selajutnya, Tim menyebut berencana akan memenuhi undangan resmi Bupati Trenggalek pada (22/12).

Serupa dengan rencana itu, kata Tim, mereka sebelumnya pada (4/12) pun sempat menyelenggarakan diksusi di Pendopo Wakil Bupati Banyumas, Jawa Tengah, atas undangan Logawa, yakni komunitas budaya setempat.

Teror Usai Pembubaran Acara di Pasar Pundensari

Tim penulis buku “Reset Indonesia: Gagasan Tentang Indonesia Baru” mendapat teror saat berada di Kabupaten Madiun, Minggu dini hari (21/12).

Telur mendarat di kaca depan mobil pengangkut empat tim penulis, yakni Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Ryamizard Harobu.

Peristiwa pelemparan telur itu terjadi sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu, mobil pengangkut penulis buku sedang parkir di tepi Jalan Desa Gunungsari, Kecamatan/Kabupaten Madiun. Meski terparkir, sopir tetap berada di dalam mobil untuk istirahat.

Tiba-tiba, dua unit sepeda motor yang dinaiki empat orang tak dikenal mendekat dan langsung melemparkan telur ke arah mobil.

Sopir yang tengah berada dalam mobil sembari memainkan smartphone-nya mendadak kaget. Hingga akhirnya, beberapa orang mendatangi lokasi kejadian. Tim penulis buku yang berada di rumah warga digunakan menginap juga bergegas ke luar guna melakukan.

Dampak pelemparan telur ke mobil itu direkam dalam bentuk video. Lalu, diunggah di media sosial hingga viral.

“Tempat penginapan kami tidak jauh dari Pasar Pundensari (Desa Gunungsari, Kecamatan/Kabupaten Madiun), lokasi (yang sebelumnya akan digunakan) bedah buku,” kata Benaya, salah seorang penulis buku “Reset Indonesia” saat dihubungi.

Namun sayang, acara bedah buku itu gagal dilangsungkan di Pasar Pundensari. Aparat dan pejabat pemerintahan membubarkannya dengan alasan penyelenggaraan acara tersebut tidak berizin.

“Padahal, panitia sudah memberikan surat pemberitahuan kepada Polsek Madiun,” kata Ketua Panitia Diskusi Buku “Reset Indonesia” Gizzatara. (Nofika)

Leave a reply