Rupiah Melemah, IPBBI Ingatkan Pemerintah Benahi Hulu Industri Bahan Bangunan

0
5

JAKARTA, 16 Juni 2026 – Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memukul sektor usaha secara global, termasuk di Indonesia. Salah satunya, perdagangan bahan bangunan.

Nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp18.300 per dolar AS mengakibatkan harga bahan bangunan ikut melonjak. Sebab, hampir seluruh material dan mesin produksi harus diimpor dari beberapa negara.

Dalam proses ini, tentunya ada biaya distribusi yang membengkak seiring dengan kenaikan harga minyak mentah. Musabahnya, jalur distribusi di Selat Hormuz sempat ditutup sebagai dampak perang antara Israel dengan sekutunya melawan AS.

Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia (IPBBI) menyatakan bahwa kondisi ini berdampak pada harga bahan bangunan meskipun proses produksinya berlangsung di dalam negeri.

“Contohnya, industri kucing yang membutuhkan resin tertentu atau produsen toren (tandon air) yang menghasilkan plastiknya belum bisa diproduksi mandiri. Belum lagi mesin-mesin produksinya,” ujar Ketua Bidang Kesenian, Budaya, dan Kerohanian Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia (IPBBI) Hadyus Santoso.

Ia mengungkapkannya dalam dialog teranyar di kanal YouTube Pedeo Project bertajuk PAPANNOMICS #05 yang tayang perdana pada Minggu (14/6/2026).

Menurut Hadyus, permasalahan mendasar yang kini dihadapi oleh pelaku usaha sebenarnya bukan terletak pada nominal harga semata. Namun, tingginya faktor rendahnya pasar.

Kondisi ini membuat para peritel dan distributor dilematis dalam menentukan volume stok barang.

Kekhawatiran akan terjadi penurunan harga secara tiba-tiba setelah menyetok barang dalam jumlah besar atau sebaliknya. Hingga akhirnya, memaksa industri bergerak sangat lambat karena konsumen maupun kontraktor memilih menahan proyek mereka.

Selain faktor nilai tukar mata uang, IPBI juga menyoroti efisiensi kinerja dan logistik di Indonesia yang dinilai masih menghambat perputaran modal usaha.

Koh Hadyus mencontohkan pengalaman nyata di lapangan di mana proses perizinan dokumen impor memakan waktu hingga berbulan-bulan. Akibatnya, potensi perputaran komoditas ( lost opportunity ) hilang.

Dalam pembelian barang dari luar negeri, ia mengungkapkan, pada bulan Desember dengan harga yang relatif murah. Namun karena proses administrasi perizinan dan birokrasi di pelabuhan yang lambat, barang tersebut baru bisa keluar pada bulan April.

“Keterlambatan ini memaksa harga jual membubung hingga tiga kali lipat saat tiba di konsumen demi menutup kerugian waktu,” ungkapnya.

Masalah ini diperparah dengan masih ditemukannya praktik pungutan pembohong (pungli) oleh oknum tertentu yang semakin menunda biaya operasional lapangan.

Terkait dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) yang baru dibentuk di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Rakabuming Raka menjadi angin segar bagi percepatan sektor perumahan nasional.

“Kami sebagai pengusaha tidak boleh pesimis, meski memang dampaknya belum terasa,” ungkap Hadyus.

IPBBI, lanjutnya, juga menilai program subsidi KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan bunga flat 5% selama 20 tahun sudah sangat baik. Meski demikian, dinilai belum menyeluruh. IPBBI memperingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus memberikan stimulus di sektor hilir (konsumen/pembeli), sementara ekosistem hulu diabaikan.

“Air itu mengalir dari hulu ke hilir. Jika stimulus hanya disuntikkan ke pembeli di bawah, namun saluran di tengah dan atas mampet akibat harga bahan baku yang terus naik tanpa kendali, maka ekosistem perumahan ini tetap akan macet,” tegas Hadius.

Dalam dialog tersebut juga memaparkan data Bank Indonesia yang menunjukkan harga properti sejatinya masih mengalami pertumbuhan tipis sekitar 0,84% pada kuartal ketiga 2025. Kondisi ini ketika meskipun volume pembelian semen nasional terkoreksi turun sekitar 3,2%.

Angka ini menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk memiliki hunian tetap tinggi, namun daya beli riil mereka tertahan.

Kondisi perekonomian saat ini secara langsung mengubah perilaku konsumen, terutama kelompok Milenial dan Gen Z yang kini mendominasi pasar.

Jika pada dekade sebelumnya konsumen cenderung membeli seluruh material bangunan dari fondasi hingga interior (A sampai Z) sekaligus, kini pola tersebut berganti menjadi metode cicilan secara bertahap.

Konsumen sekarang datang ke toko bangunan dengan membawa kalkulator. Mereka membeli materi secara dicicil; bulan ini semen terlebih dahulu, bulan depan baru mencicil keramik, dan beberapa bulan berikutnya membeli cat tembok.

Selain itu, generasi muda sekarang jauh lebih kritis; mereka tidak lagi fokus pada satu merek besar yang mahal karena faktor loyalitas merek, melainkan aktif melakukan riset mandiri melalui media digital untuk mencari alternatif produk berspesifikasi sama dengan harga yang lebih kompetitif.

Dalam kesempatan tersebut Hadys juga memberikan strategi bagi pelaku usaha bahan bangunan dalam beradaptasi dengan kondisi. Pertama, diversifikasi saluran distribusi yang tidak hanya mengandalkan penjualan eceran di toko.

Namun, dengan aktif menghadirkan bola ke proyek kontraktor, komunitas arsitek, desainer interior, hingga ekosistem marketplace digital.

Strategi kedua, transformasi menjadi konsultan . Dalam hal ini, pengusaha perlu mengubah fungsi pelayanan toko dari sekedar menjual barang menjadi pusat materi edukasi guna mencegah kesalahan pembelian oleh konsumen.

Leave a reply